Harapan untuk Coqi
Sejak Coqi lahir, aku sudah sering membayangkan , atau boleh dibilang mengharapkan, bahwa anakku tidak perlu punya prestasi akademik yang tinggi, tetapi dia perlu memiliki kelebihan dari rata-rata anak di usia yang sama. Harapanku itu dilandasi pengalaman hidupku sendiri. Bahwa prestasi akademikku selama ini kurasa hanya sedikit kontribusinya mengantarkanku menuju bahagia (“bahagia” lebih suka kugunakan dibanding “sukses”). Dan banyak juga , bahkan lebih banyak kubaca, orang-orang “bahagia” yang tidak memiliki riwayat prestasi pendidikan yang luar biasa. Aku menyadari bahwa aku tidak berhak mensetting minat Coqi, aku tidak berhak mentarget prestasi Coqi. Maka aku hanya berpikir, membayangkan dengan kuat, seperti apa masa depan Coqi yang aku harapkan.
Aku sangat ingin anak-anakku bahagia. Aku ingin Coqi jadi sangat bahagia. “Bahagia” dalam arti yang luas, segala arti. Bahagia yang benar-benar dia rasakan, bukan bahagia menurutku atau orang lain. Bahagia yang dia dapatkan sejak dia lahir dan sepanjang hidupnya, seluruh hidupnya.
Maka setiap hari, setiap saat, kebahagiaan anak-anakkulah yang aku perhatikan dengan sepenuh hati, dan segala hal yang bisa mengarahkan kebahagiaan di masa depannya, di dunia maupun akhirat.
Alhamdulillah, apa yang aku bayangkan tentang Coqi banyak yang terwujud. Coqi tidak pernah mendapat prestasi akademik yang luar biasa, belum pernah mendapatkan ranking lima besar. Dan Coqi memiliki kemampuan komunikasi verbal melebihi rata-rata anak seusianya. Coqi juga mempunyai minat baca yang lebih tinggi dari teman-temannya, bahkan mungkin lebih tinggi dari teman-temanku di kantor.
Mungkin karena harapanku, bayanganku mempengaruhi sikap-sikapku dalam mendidik Coqi. Atau mungkin bayanganku berubah menjadi doa dan ALLOH mengabulkannya.
Aku bangga pada Coqi, selalu bangga, dan ketika Coqi menjadi seperti apa yang aku bayangkan, aku menjadi sedikit khawatir. Aku khawatir Coqi tidak bahagia dengan keadaannya. Karena apa yang membuatku senang belum tentu membuat Coqi bahagia. Aku selalu konfirmasi ke Coqi. Dan bila harapanku terhadap Coqi bukan kebahagiaan yang dia harapkan, aku harus merelakan harapan-harapanku. Aku harus menyamakan-mengikuti harapan kebahagiaannya. Karena ini tentang hidupnya, dan kebahagiaannya adalah harapanku, menjadi ke-”bahagia”-anku.
Add comment November 15, 2009
Matematika Dalam Misi
Aku baru terima Rapor sisipan dari Coqi. Ada dua nilai C dan satu nilai C-. Padahal passing gradenya adalah C. Yang mendapat nilai C- adalah pelajaran Matematika. Sebenarnya aku tidak kecewa dengan pencapaian Coqi, karena dia mendapatkan nilai A untuk pelajaran Agama dan Ilmu Sosial. Tapi aku khawatir, karena sampai saat ini masih banyak orang menganggap pelajaran Matematika sebagai pelajaran inti untuk tolok ukur prestasi akademik. Aku mengenal anakku. Dia bukannya tidak mampu pada pelajaran Matematika, tapi dia kurang berminat terhadap pelajaran tersebut. Bila sudah tidak berminat, bagaimana mungkin aku memaksanya berprestasi?
Aku sendiri adalah penggemar Matematika (lagi…)
2 comments Oktober 19, 2009
Berbahagia Dahulu Berbahagia Kemudian
“Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian.Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”
Sebuah peribahasa lama yang sering sekali digunakan untuk membangkitkan motivasi. Maknanya sangat dalam, tapi luas. Saking luasnya sampai banyak yang salah menafsirkannya.
Menurutku, maksud dari peribahasa di atas adalah bahwa segala sesuatu itu harus diperjuangkan dulu. Banyak orang menafsirkan bahwa perjuangan adalah identik dengan penderitaan. Sehingga selama berjuang mendapatkan sesuatu, selama itu pula harus menderita, tersiksa, tersakiti. Benarkah? Maukah kamu? (lagi…)
3 comments Juni 9, 2009
Arah Datangnya Rizqi Tidak Terduga
“Pak Dian jam berapa sampai rumah bu?”
Salah seorang teman memastikan aku bisa ditemui di rumah. Sudah beberapa hari dia berusaha bertemu aku di rumah, tetapi selalu gagal karena aku selalu pulang larut malam. Akhirnya kami bisa bertemu di rumah pada hari minggu malam, bada Maghrib.
”Pak Dian saya mau mengembalikan uang yang saya pinjam, berapa ya pak? Maaf pak karena terlalu lama saya lupa”
”Wah saya juga lupa pak” (lagi…)
1 comment Juni 8, 2009
Menjawab Pertanyaan Izrail di Hari Lahirku
Pagi tadi, aku membayangkan bertemu malaikat Izrail dan melakukan Tanya jawab.
Malaikat Izrail (MI) : Berapa usiamu sekarang?
NM Dian (NMD) : Hari ini persis tiga puluh tujuh tahun
MI : Apa yang kamu rasakan ?
NMD : Perasaan saya seperti sedang bergantung pada seutas tali, yang memiliki banyak serabut. Di bawah saya api neraka menunggu saya jatuh. Setiap tahun satu serabut tali terputus.
MI : Berarti saat ini sudah tiga puluh tujuh serabut yang terputus !
NMD : Benar…
MI : Ada berapa serabut lagi yang belum terputus ?
NMD : Itulah masalahnya. Saya tidak pernah tahu masih tersisa berapa serabut pada tali tempat saya bergantung.
MI : Bila ternyata saat ini tinggal satu serabut, berarti tahun depan kamu akan jatuh ke neraka… ?!
NMD : Benar. Saya akan terjun bebas ke api neraka dibawah saya. Kecuali…
MI : Kecuali apa?
NMD : Kecuali saya mempersiapkan alat-alat pengaman, alat penyelamat agar tidak terjatuh.
MI : Saat ini apakah kamu sudah mempersiapkan??!
NMD : (Menunduk lesu, menarik napas panjang) Sayangnya belum…(dengan suara pelan)
MI : (Memandang tajam. Menunggu jawab selanjutnya)
NMD : Bila ternyata hanya satu serabut yang tertinggal pada tali, itulah kesempatan saya untuk segera menyiapkan alat penyelamat. Tidak ada waktu lagi, saya harus segera menyiapkan alat itu……..
2 comments April 21, 2009
Mulai Dari Yang Kecil
Aku punya satu kebiasaan yang kutiru dari kebiasaan sahabatku Pak Joko. Bila berjalan dengan dia sering menunduk atau jongkok sekedar memungut sesuatu. Saat aku perhatikan lebih cermat ternyata dia memungut paku, baut, kawat atau benda-benda kecil tajam sejenis. Aku sadar bahwa di agama juga diajarkan untuk menyingkirkan benda-benda yang berpotensi mencelakai orang lain, tetapi selama ini aku jarang banget, hampir tak pernah menemui orang yang serius dan konsisten menjalankan amal ibadah itu, bahkan aku sendiripun tidak pernah dengan sengaja, sadar, niat memperhatikan jalan untuk mencari benda-benda tajam dan memungutnya. Kalau nggak sengaja melihat sich pernah, itupun tidak selalu diikuti dengan proses memungut.
“Aku nggak niat cari paku kok pak…! (lagi…)
2 comments April 20, 2009
Selesai Menulis, Tapi Proses Pembuatannya Belum Selesai
ALHAMDULILLAH, aku berhasil menulis satu lagi cerpen. Proses pembuatan (bukan penulisan) cerpenku yang kedua ini memakan waktu cukup lama, tidak seperti cerpen pertama yang bisa kuselesaikan dalam waktu satu minggu. Dan yang paling lama adalah proses pengendapannya. Bahkan mungkin, meskipun sudah kutulis dan kuposting di Blog ini, dan kukirim ke lomba cerpen, sebenarnya cerpen keduaku ini belum selesai. Karena saat kubaca ulang cerpenku, aku masih merasakan ada yang kurang. Ibarat masakan, ada satu bumbu dan proses memasak yang belum aku lakukan.
Saat kubaca sendiri cerpenku,kurasakan tulisan cerpen keduaku ini kurang menyentuh bila dibanding proses pengendapan yang aku rasakan. Saat proses pengendapan, berkali-kali aku menangis sendiri, terharu, hatiku bergetar. Saat sendirian, tak ada orang yang melihat, aku bahkan sampai menangis tersedu. Kerongkonganku kering dan tenggorokanku sampai sakit.
Aku bagaikan merasakan sendiri, bagaikan kehidupan yang pernah kujalani. Jiwaku larut dalam karakter Rahman, dan Coqi sebagai Arif.
Seperti itukah penulis-penulis lain? Bila hanya menulis cerpen saja perasaanku jadi begitu hanyut dan jiwaku lelah, bagaimana bila menulis novel ?
5 comments Maret 30, 2009
Anugerah 2 :Bila nikmat sudah hilang
Malam tadi, malam keduaku di Jakarta, bangun tidur tanpa melihat orang-orang yang kucintai. Sebenarnya ini bukan yang pertama kali, dan aku juga pernah lebih lama berpisah dengan mereka, tetapi kali ini aku ingin merasakan, merekam, menuliskan persaanku saat berpisah dengan orang-orang yang sangat kucintai.
Aku sangat menyesal, saat sedang jauh dari mereka, bahwa aku tidak maksimal menikmati anugerah besar. Bukannya aku tidak bersyukur selama ini, hanya rasa syukurku berkadar standard. Bagaikan mensyukuri nasi putih dan lauk tempe sedangkan hati sedang membayangkan kambing guling.
Saat jauh seperti ini aku merasakan betapa besar nikmat yang selama ini aku terima.
Bangun pagi bertemu dengan Coqi yang bersemangat mengikutiku sholat Shubuh di masjid. Sepulang dari masjid bertemu dengan belahan jiwaku yang sudah sibuk menyiapkan sarapanku dan Coqi. Meskipun tanpa senyum karena masih mengantuk semalaman menidurkan Hanun yang masih agak kacau jam biologisnya, dia tetap terlihat sangat cantik dimataku, bahkan bagiku dia selalu terlihat sangat cantik saat baru bagun tidur.
Kemudian (lagi…)
2 comments Maret 24, 2009
Minta Maaf
Akhir tahun 2008 ini beberapa perubahan yang kualami terjadi, itu kalau dua hal bisa dikatakan sebagai beberapa.
Yang pertama adalah perubahan yang dialami oleh banyak orang, mungkin semua orang. Yaitu krisis ekonomi global. Mungkin ada orang yang tidak memasukkan krisis dalam kategori perubahan, tetapi bagiku krisis adalah perubahan yang sangat besar, bahkan mungkin bisa dianggap biangnya perubahan, terutama krisis ekonomi global. Luar biasa, seluruh dunia bisa menderita bersama-sama. Karena krisis ini, di lingkungan tempatku bekerja dilakukan pengetatan budget,secara besar-besaran juga. Kami harus berpikir lebih keras agar tetap bisa bekerja -menjalankan program kerja- dengan biaya yang dipangkas.
Perubahan yang kedua, adalah pergantian Kepala Cabang di Indosat Malang. Ada satu kebiasaanku, yaitu mempelajari orang, yang membuatku sibuk sekali mempelajari Kepala Cabangku yang baru. Tentu saja aku menghindari sekecil-kecilnya berpikir negatif. Ada keasyikan sendiri saat aku memetakan orang berdasarkan sifat dan sikapnya.
Dua perubahan itu mungkin yang membuatku menjadi “jauh” dari Blog. Sebenarnya sering muncul kerinduan untuk sekedar Blog Walking, tetapi entah kenapa seperti ada kekuatan yang membetot perhatian dan pikiranku pada dua perubahan tersebut.
Saat ini, ALHAMDULILLAH, kekuatan itu mulai melemah. Sehingga aku bisa membagi pikiran dan perhatianku lagi pada dunia Blog. Dan ALHAMDULILLAH (lagi) aku juga berhasil menyelesaikan satu tulisan cerpen.
Minta maaf bagi teman-teman yang berkali-kali menyapaku, dan aku tak bergeming….
2 comments Maret 13, 2009
Belajar Berpikir Ala Jenderal
Pagi ini aku harus menghadiri rapat di Surabaya. Sebenarnya yang diundang adalah para Kepala Divisi dan Kepala Cabang se-Jawa Timur dan Bali Nusa Tenggara. Tetapi karena Kepala Cabang Malang sedang naik Haji aku yang ditunjuk untuk mewakili.
Sebenarnya aku agak malas mengerjakan tugas ini. Kubayangkan rapat ini akan dipenuhi angka-angka target tahun depan dan laporan-laporan progres tahun ini, sangat membosankan. Perasaan malas itu timbul sejak kemarin, karena undangannya baru kuterima kemarin. Seharian kemarin aku disibukkan dengan mengumpulkan laporan dari teman-teman tentang kegiatan-kegiatan yang sudah dan akan dilakukan. Bayangkan saja secara mendadak aku dipaksa mempelajari hal-hal yang tidak pernah aku lakukan dan rencanakan, capek deh…. (lagi…)
19 comments Desember 12, 2008
Bersyukur = Bahagia
(Berhubungan dengan tulisan sebelumnya : Bahagia)
Tiga belas tahun yang lalu, yang ada di angan-anganku adalah : “Alangkah bahagianya bila aku bisa diterima bekerja di suatu perusahaan”. Tidak penting berapa gajiku, apa jabatanku, yang penting bisa bekerja. Karena saat itu aku sudah menganggur selama hampir satu tahun. Bayangkan saja, yang sudah berpengalaman bekerja saja susah mencari kerja. Yang baru lulus kuliah, yang pikirannya masih fresh dengan ilmu-ilmu canggih (karena itu disebut Fresh Graduate) juga sangat sulit mencari kerja. Apalagi aku, yang sudah lulus satu tahun, sudah tidak fresh lagi, dan tidak punya pengalaman bekerja sama sekali. Bisa membayangkan khan perasaanku saat itu?
Karena kasih sayang ALLOH, aku diterima di perusahaan telekomunikasi dengan gaji satu setengah kali gaji yang aku minta. Luar biasa bahagia sekali aku saat itu.
Saat menerima gaji pertama, ingin rasanya aku mentraktir, membelanjakan segala hal bagi Bapak, Ibu, dan seluruh saudaraku. Tapi kebahagiaan itu hanya terasa besar dalam beberapa bulan saja. Setelah itu, gaji yang kuterima terasa biasa, tidak terlalu istimewa untuk bisa membuat bahagia. Padahal jumlahnya tidak menurun, dan harga-harga barang juga tidak mengalami kenaikan. Ke mana perginya perasaan bahagia itu…?? (lagi…)
10 comments Desember 9, 2008
Naik Sepeda 4 : Mencoba Hidup Seimbang
Hidup sehat seimbang, seperti apa?
“Kita harus seimbang antara dosa dan pahala “
Waduh, kalau kebablas kebanyakan dosa bagaimana dong… ??
“Harus seimbang antara aktifitas ibadah dan aktifitas keduniaan”
Lha mbaginya bagaimana? Fifty – fifty ? Bukannya setiap pekerjaan positif bisa kita niatkan ibadah? Bahkan bila kita niatkan dan ikhlas, tidurpun akan bernilai ibadah.
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan ALLOH kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah sebagaimana ALLOH telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.Sesungguhnya ALLOH tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”(Al Qasas 77)
Jadi seharusnya porsi dunia dibanding akhirat bagaikan rumput di sela-sela padi di sawah. Atau ibarat menanam rosella di sela-sela pohon jati Jumbo.
Khan seimbang bukan berarti prosentase sama semua… (lagi…)
7 comments Desember 1, 2008
Bapak : Martabak
Ramadhan tahun delapan puluh tiga
Saat belajar puasa dulu, hal yang terberat bukanlah siang saat puasa, tetapi bangun malam untuk makan sahur. Dan makan sahur paling kutunggu-tunggu adalah bila menunya martabak. Saat itu kehidupan kami sangat sederhana. Bapak, yang hanya punya ijazah SMP, hanya jadi pegawai negeri rendah di PEMKAB Jember. Martabak adalah menu yang mewah bagi kami. Belum tentu setiap bulan kami bisa menikmati martabak.
Malam itu, sebelum kami tidur, Bapak datang membawa bungkusan martabak. Agar tidak Ngringet, martabak yang masih panas dibuka bungkusannya dan diler di piring. Aroma lezatnya menyebar di seluruh rumah, dan membuat air liur menetes. Tetapi kami tidak bisa langsung menikmatinya karena martabak tersebut untuk lauk makan sahur. Jadilah kami bersemangat tidur, agar tidak berlama-lama menahan air liur, (lagi…)
8 comments November 19, 2008
Kasih Sayang Terbesar
Sabtu kemarin aku menjemput Coqi ke sekolahnya. Begitu masuk Dhuhur aku sholat berjama’ah di masjid VEDC. Selesai sholat, karena Coqi baru keluar sekolah jam tigabelas, kuhabiskan waktuku duduk-duduk di serambi masjid. Sambil blogwalking menggunakan GPRS aku menikmati semilirnya angin siang yang mendung. Beberapa saat kemudian telingaku menangkap pembicaraan dua orang yang membuatku mengalihkan perhatianku dari HP dan mencari sumber suara. Dua orang laki-laki, yang kemungkinan adalah pekerja bangunan yang sedang membangun gedung baru di komplek VEDC, sedang bertegur sapa. (lagi…)
4 comments November 17, 2008
Naik Sepeda 3 : Keranjingan
Begitu bisa naik sepeda, aku seperti anak kecil yang baru dapat mainan baru, keranjingan naik sepeda. Setiap pagi, bada Subuh, kusempatkan barang satu jam untuk bersepeda. Ternyata bersepeda itu sangat nikmat. Aku bisa menikmati pemandangan di sepanjang jalan yang kulalui yang tidak bisa kunikmati bila naik motor.
Sebelumnya olah raga favoritku adalah lari, joging. Tapi begitu bisa naik sepeda, ternyata kenikmatannya dua kali lipat. Bersepeda terasa tidak gampang capek dibandingkan joging, namun (lagi…)
5 comments November 12, 2008
Senyum Tercantik
Mata beningnya berbinar. Bulu mata yang lentik menambah keindahannya. Pipinya yang bulat, Chubby, kemerah-merahan menantang untuk dicubit, menggemaskan. Mulutnya yang mungil selalu bergerak-bergerak berceloteh mengeluarkan suara-suara khas yang meskipun tidak jelas artinya terdengar merdu, juga menggemaskan. Tangan mungilnya bertepuk tangan atau menepuk-nepuk pahanya sendiri mengiringi “lagu” yang ia nyanyikan. Tapi bukan itu semua yang menjadi penyebab utama sehingga hampir seluruh tetangga dekat kami keluar rumah mereka untuk mengerumuninya, mencandainya. Senyumnya, senyumnyalah yang menjadi daya tarik, memikat semua orang yang bertemu dengannya. Senyumnya , meskipun tidak sempurna karena tidak dihiasi gigi, memang senyum yang tercantik di dunia, paling tidak menurutku dan ibunya. Senyum itu yang membuatku setiap malam merintih-menangis bahagia menghaturkan syukur kepada-NYA. Senyumnya itu adalah wujud semakin melimpahnya anugerah ALLOH kepadaku. Fabi ayyi ‘aala irobbikuma tukadzdzibaan….
Mumtaza Hanun Basil baru berusia delapan bulan. (lagi…)
4 comments November 9, 2008
Kesedihan Ibu
Berapa minggu yang lalu Ibuku tercinta datang menjenguk kami. Menginap tiga hari di Malang. Pada suatu kesempatan ibu mengajak bicara serius istriku, cukup serius karena Ibu sampai meneteskan air mata. Saat itu aku sedang di kantor, dan memang Ibu sengaja mencari kesempatan seperti itu, karena mungkin Ibu mengira aku masih seperti dulu, keras-kaku-tidak bisa diajak bicara. Isi dari pembicaraan Ibu dan istriku adalah bahwa beliau sangat memprihatinkan kondisi materi rumah tanggaku, dan tidak sepaham dengan cara pandangku terhadap dunia, termasuk juga doktrin-doktrin yang aku ajarkan kepada anak-anakku. Ibu menganggap aku terlalu tidak menghiraukan kualitas kehidupan dunia, keterlaluan dalam menerapkan “hidup sederhana”. Ibu mengkhawatirkan masa depan cucu-cucunya.
Aku tidak tahu bagaimana Ibu bisa berpikir seperti itu. (lagi…)
7 comments November 6, 2008
Memahami Orang Lain
Aku sering melontarkan pertanyaan kepada sahabat-sahabatku :
”Lebih sulit mana memaksa diri sendiri agar bisa memahami orang-orang lain, atau memaksa orang lain untuk memahami diri kita?”
Seratus persen mereka menjawab lebih sulit yang kedua : memaksa orang lain untuk memahami diri kita.
”Benarkah…?? Jawabanmu berdasarkan logika, atau pengalaman?” itu pertanyaan susulan yang selalu kuajukan bila mereka sudah memilih. Ada yang nyengir, ada yang berpikir serius sampai mengernyitkan kening, ada pula yang ngeloyor pergi, mungkin menganggap pertanyaanku tidak penting untuk ditanggapi lebih jauh. (lagi…)
2 comments November 2, 2008
SUMPAH PEMUDA
“Pak Dian, benderanya pak…Hari Sumpah Pemuda!”, pak RT berteriak dari atas sepedanya. “ASTAGFIRULLOH”, aku bergumam spontan sebagai ekspresi penyesalanku. Sama sekali aku lupa bahwa hari ini adalah hari Sumpah Pemuda. Aku menyesal aku telah melupakan itu. Aku menyesal selama setahun ini, sejak hari Sumpah Pemuda tahun lalu, aku tidak pernah mengenang peristiwa Kongres Pemuda di Jakarta delapan puluh tahun yang lalu.
Dengan bergumam juga aku berusaha mengucapkan Sumpah Pemuda :
“Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. ALHAMDULILLAH, aku masih ingat.
Bagaimana dengan para pelajar dan pemuda saat ini? (lagi…)
3 comments Oktober 28, 2008
Koran
“Bulan depan saya sudah tidak bisa mengantar koran lagi. Saya nggak sanggup bu..Terlalu sedikit pelanggan saya, tidak seimbang dengan bensin, waktu dan tenaga yang saya keluarkan” kata pak Yahya siang itu saat menagih uang langganan koran. Kami sangat sedih mendengarnya. Kami sangat senang dan cocok dengan pak Yahya. Setiap bada Shubuh, jam limaan, pak Yahya sudah datang mengantar Koran pagi. Kami jadi punya banyak waktu membaca koran sebelum melakukan persiapan aktifitas harian kami. Coqi menggelar koran itu di atas dampar dan membacanya dalam posisi merangkak, karena badannya masih terlalu kecil. Sore hari bada Ashar pak Yahya datang lagi mengantarkan koran sore, yang langsung dibaca Coqi sepulang sekolah jam setengah empat sore.
“Harga koran naik terus Bu, banyak pelanggan saya yang keberatan dan berhenti berlangganan.” (lagi…)
1 comment Oktober 24, 2008
Tidak Ada Tempat Bagi Buku di Rumah Kami
Aku sangat suka baca, bahkan mungkin gila baca. Kegilaanku terhadap buku diturunkan oleh Ibu. Aku satu-satunya anak ibu yang menderita ‘gila turunan’ itu, meskipun akhir-akhir kutularkan kepada adik bungsuku.
Dulu waktu aku masih kecil Ibu dan Bapak tidak sanggup memenuhi kecanduanku terhadap buku. Sehingga aku harus bersabar menabung rupiah demi rupiah untuk membeli buku. (lagi…)
4 comments Oktober 24, 2008
Bapak : Berpulangnya Sang Super Ikhlas
(Kisah 8 tahun yang lalu)
Semalaman aku memegang tangannya. Kupandangi wajahnya yang pucat, kurus. Masih sangat tampak gurat-gurat kebijaksanaan di wajah yang semakin redup sinarnya. Sesekali beliau terbangun, tersenyum manis, sangat manis sambil mengacungkan ibu jari dan bergumam lemah. Sangat lemah sehingga aku tidak bisa mendengarnya. Malam itu pertama kali aku mendapat giliran jaga, menemani bapak yang sudah 20 hari opname di RSU Dr. Soetomo karena sakit kanker hati.
Baru sehari sebelumnya aku tiba dari Jakarta, bersama istri dan anakku.
Sebenarnya Bapak sudah empat bulan sakit, tetapi baru dua puluh hari yang lalu bersedia dirujuk ke rumah sakit. Dan setiap kali aku menelepon dari Jakarta beliau selalu menjawab , dengan suara yang tegar bagaikan tidak sakit, agar aku tidak perlu khawatir karena beliau tidak apa-apa.
”Bapak nggak apa-apa kok Yan…Kamu nggak usah khawatir, ALLOH memberikan penyakit kepada hambanya pasti ada tujuannya. Dan setiap penyakit pasti ada obatnya” (lagi…)
4 comments Oktober 18, 2008
Naik Sepeda 2
Empat Bulan yang lalu aku ‘nekat’ beli sepeda Polygon. Aku pilih yang paling murah, karena aku nggak yakin bisa menaikinya. Memang aku belum pernah bisa naik sepeda. Dulu waktu kelas empat SD aku sempat belajar naik sepeda, tapi belum tuntas. Waktu itu aku terlalu takut untuk meneruskan belajar, takut jatuh. (lagi…)
11 comments Oktober 10, 2008
Anugerah
“Coqi..!! Sholat Shubuh nak..!!” Suaraku berusaha lembut, tapi dengan volume agak tinggi. Coqi terbangun, duduk sambil berusaha membuka matanya. Aku tidak perlu mengulang seruanku, pelan-pelan dia beringsut ke pinggir ranjang, kemudian melorot turun. Dengan mata yang setengah terbuka dia mencari-cari sandal kamarnya, terhuyung tubuh mungilnya menuju kamar mandi. Aku hanya berdiam diri memandangnya, pemandangan yang selalu kutemui setiap pagi, pemandangan indah yang membuatku hanya bisa terdiam, bertahmid dan bertasbih.
Setelah siap dengan baju koko, sarung khusus (kami jahitkan khusus dengan menambah tali kolor sehingga mempermudah memakainya), (lagi…)
5 comments November 19, 2007
Naik Sepeda 1
Suatu Minggu pagi aku menegur Isyroqi : “Coqi kok nggak pernah latihan naik sepeda lagi?” Isyroqi yang sedang menulis sesuatu di kertas stensil yang memang aku belikan untuk menyalurkan hobinya menulis yang lebih cenderung seperti coretan menjawab dengan enggan :”Enggak pak, malas…”.”Teman-temanmu sudah bisa naik sepeda semua lho nak…bahkan yang lebih kecil dari Coqi…”.”Biarin…..emang seumur Coqi dulu bapak sudah bisa naik sepeda?” Isyroqi berhenti menulis, mendongak menunggu jawabanku.”Belum sich….”.”Umur berapa sich bapak bisa naik sepeda?”dia mengejar.”mmmmhhh…bapak dulu langsung belajar naik motor nak…tapi sebelumnya bapak sempat menyesal nggak bisa naik sepeda…kalau teman-teman bapak rame-rame bersepeda, bapak nggak bisa ikut…Kalau bapak pingin main ke rumah teman bapak harus jalan kaki…”.Isyroqi terdiam memandangku, merenungkan kata-kataku.”Sekarang bapak menderita apa nggak nggak bisa naik sepeda?”dia bertanya lagi. “Enggak sich…”. “Ya udah…”dia meneruskan menulis eh mencoret-coret kertasnya. Aku tidak berani meneruskan pembicaraan, kuambil koran dan berusaha mulai membaca. Untunglah di sekolah Isyroqi pelajaran renang adalah pelajaran wajib.
Malang, Jalan Ikan Tengiri 08, 23 Maret 2006
2 comments Maret 23, 2006



