Be Yourselve, Be Better, Be Happy
“Be yourself”
“Jadilah diri sendiri”
Kata-kata motivasi yang bagus, menenangkan . Tapi hati-hati memaknainya!
Saya dibesarkan di lingkungan mayoritas suku yang cara berbicaranya bernada keras. Sesama kami sudah terbiasa berbicara dengan nada keras (ada juga yang bilang kasar), dan tidak ada masalah. Saat saya ditempatkan bekerja di Jakarta saya bertemu dengan orang-orang dari beragam suku. Dan ternyata gaya bicara saya yang paling keras atau kasar. Banyak teman-teman yang mengomentari, bahkan mengeluhkan, cara saya berbicara.
Saat awal menikah, sering sekali saya dan istri bertengkar karena salah paham dengan cara saya berbicara. Istri berani mengeluh dan protes dengan kekasaran saya, bagaimana dengan keluarga besarnya yang beradat lemah lembut? Mereka pasti sungkan menyampaikan ketidakberkenanan mereka terhadap gaya saya yang kasar.
Awalnya saya bangga menjadi diri sendiri, saya bangga dengan ‘kekasaran’ saya. Ditambah lagi dengan temperament saya yang sangat mudah ‘naik’. Saya bangga punya ciri khas ‘kasar dan mudah marah’.
Dengan berjalannya waktu, saya merasakan bahwa saya bangga tapi tidak nyaman. Saya bangga tapi kurang bahagia. Perselisihan-perselisihan yang terjadi disebabkan ‘ciri khas’ saya membuat saya tidak nyaman.Semakin banyaknya orang yang sakit hati karena ‘ciri khas’ saya mengikis kebahagiaan saya.
Maka saya putuskan untuk berubah.
Saya tidak ingin berubah menjadi orang lain. Saya hanya ingin berubah menjadi lebih bahagia. Saya ingin berubah agar bisa membahagiakan.
JADILAH DIRI SENDIRI bila itu membuat anda BAHAGIA, dan MEMBAHAGIAKAN. Bila tidak, berubahlah menjadi DIRI SENDIRI YANG LEBIH BAIK DAN BAHAGIA.
Hiduplah efektif dan berbahagialah.
Jangan Makan Telur dengan Cangkangnya
Pernah suatu malam saya bersepeda (bukan motor lho) pulang dari kantor. Saat berbelok menyeberang ke kanan tiba-tiba ada motor hampir menyerempet saya. Saya sangat terkejut, bukan karena tersenggol, tapi karena makian dari pengendara motor tersebut “Kalau mau mati jangan di jalan pak!”. Saya sangat tersinggung dan perasaan kesal saya rasakan sampai saya tertidur tengah malam.
Dalam kehidupan terlalu sering kita terpaku pada PERISTIWA dan PROSES dibanding ISI yang terkandung di dalamnya.
Pernahkah teman-teman sarapan telur ceplok yang lezat sambil membayangkan proses keluarnya telur dari induknya? Kalau belum pernah, sebaiknya jangan. Karena pasti akan mengurangi kelezatan sarapan kita. Atau tetap ingin mencoba?
Telur yang keluar dari pantat ayam tidak mungkin khan langsung kita nikmati. Harus kita bersihkan dulu, kita pecahkan cangkangnya agar kita bisa nikmati isinya.
Pada peristiwa malam itu saya terlalu terpaku pada bagaimana pengendara motor mengeluarkan kata-katanya yang sangat kasar. Padahal yang kasar hanya cara mengucapkannya. Keesokan paginya saat saya mengingat apa yang dikatakannya, saya baru sadar bahwa apa yang dikatakannya adalah nasehat yang bagus.
Teman-teman, selalu nikmati ISI dari kehidupan ini, abaikan segala hal yang membungkusnya. Hidup akan lebih efektif dan bahagia.
Anak Setan
Fiksi Mini Nur Muhammadian
“Selamat bu putranya sehat dan cakep”
Wajah mungil anakku seakan tersenyum bagai malaikat.
Terdengar sms masuk.
“Ma tlg sgr amankan brg yg kt simpan di rumah, papa ketangkep!”
Kulihat wajah anakku berubah bagai setan.
Bapak Kencing Berdiri Anak Kencing Berlari
Fiksi Mini Nur Muhammadian
“Ayo cepat pergi ke masjid! Sholat Jumat keburu dimulai!”
“Papa nggak berangkat?”
“Entar Papa nyusul, ada berita TV yang harus Papa ikuti”
Sejurus kemudian ada orang mengetuk pintu depan
”Maaf pak Joko, anaknya tertabrak saat mengejar layang-layang. Sekarang dibawa ke rumah sakit”
Janji Setia
Fiksi Mini Nur Muhammadian
Ribuan pengantar jenazah bubar. Keluarga besar tokoh terhormat yang meninggal itu juga sudah pulang. Tinggal seorang perempuan cantik bersimpuh di sebelah pusara.
“Selamat jalan kasihku. Ternyata kau tidak menepati janjimu menikahiku. Penyakit kelamin yang kautularkan ternyata lebih setia ”
Nasib Negeri ini
Fiksi Mini 100 kata Nur Muhammadian
Tubuh itu tergeletak tak bernyawa, hancur berdarah.
“Dikeroyok massa…”
“Padahal cuma kabur membawa lima nasi bungkus yang tidak dibayarnya”
“Aku mengenalnya rajin sholat di masjid, rajin juga membersihkan masjid”
Tiba-tiba menyeruak kerumunan seorang perempuan bersama tiga orang anak, menubruk dan menangisi jenasah itu. Mereka sangat kurus dan tampak sakit.
Di ruang dalam seorang petugas memasukkan uang segebog ke dalam laci setelah menandatangai Surat Penetapan Penghentian Penyidikan.
Maaf Bang….
Fiksi Mini 100 kata Nur Muhammadian
“Maaf bang…Maaf bang…”
“Sejak sadar dia merintih seperti itu”
Mata adikku yang berusia tiga tahun masih terpejam, kepalanya dibalut perban.
”Dia sangat mencintaimu, selalu ingin bersamamu. Motor itu tidak sempat menghindari tubuhnya yang menghambur ke jalan mengejar bolamu”
Mataku panas, berair.
”Setiap kau sekolah dia selalu memainkan bola milikmu.Dia ingin pintar main bola biar kau mau mengajaknya main. Tapi sebelum siang dikembalikannya karena takut kaumarahi kalau kau tahu”
Terbayang sebalku saat adikku memaksa ikut main bola, atau memaksaku main boneka bersamanya. Matanya yang berbinar akan berair saat kubentak.
Air sesalku menetes. Aku ingin mata yang terpejam itu berbinar lagi.
Terima Kasih Sahabat
Setiap pagi melihat wajahmu
Seakan pagi tak akan berlalu
Senyummu pancarkan semangat
Bangkit jiwaku makin hangat
Sahabat…
Kutahu bebanmu sarat
Tantangan menghadangmu berat
Halangan penuhi harimu
Cerca kauterima laksana debu
Namun senyummu tetap berpendar
Usir kelabu surampun memudar
Di dekatmu tiada gelap
Di sisimu hari selalu gemerlap
Segar embun selalu kauhadirkan
Ceria bianglala kaupersembahkan
Sahabat…
Kudoa selalu di malam-malamku
Kuminta selalu bahagia untukmu
Karena yakin aku…
Bahagiamu adalah tak terkira bahagiaku
(Kupersembahkan puisi ini khusus untuk My angels : Elin,Lia dan Nita)
Wanita Berkerudung Bianglala
Wanita itu bergerak cepat
Kerudungnya berkibar
Angin di sekelilingnya berubah aroma
Bukan aroma melati
Bukan aroma mawar
Bukan pula aroma kesturi
Tak bisa tercium oleh indra
Tapi terasa di hati
Membuat bahagia
Wanita itu bergerak cepat
Kerudungnya berkibar
Memancarkan cahaya
Tak terlihat mata jalang
Tak ada warna di mata hubbuddunia
Tapi sangat mempesona
Bagi mata hati
Yang bersih dan suci
Wanita itu bergerak cepat
Kerudungnya berkibar
Kerudungnya yang lebar
Tak membatasi geraknya
Tak pula mengurangi cepatnya
Karena kerudungnya adalah bianglala
Yang berkibar indah
Ujungnya menyentuh surga
Seluruh Hidupku adalah Anugerah
Ayahku bijaksana
Pandai, pekerja keras dan ramah
Ibuku cantik dan santun
Juga pandai, pekerja keras dan ramah
Keduanya sangat menyayangiku
Aku bahagia punya ayah dan ibu seperti itu
Fabi Ayyi ‘ala Irobbikuma Tukadzdzibaan
Kakak-adikku juga menyayangiku
Kami selalu saling membantu
Sejak kecil kami bahu membahu
Menghadapi tantangan hidup dan melalui waktu
Aku bangga punya kakak-adik seperti itu
Fabi Ayyi ‘ala Irobbikuma Tukadzdzibaan
Istriku cantik dan lembut
Jadi penyembuh saat kusakit
Jadi penghibur saat kusedih
Jadi penguat saat kulemah
Yang pasti jadi belahan jiwa
Fabi Ayyi ‘ala Irobbikuma Tukadzibaan
Anak-anakku lucu-lucu
Penyedap mataku
Penenang hatiku
Tempat kuletakkan harapan-harapanku
Karena ada mereka terasa sempurna hidupku
Fabi Ayyi ‘ala Irobbikuma Tukadzibaan
Seluruh isi hidupku adalah anugerah
Sepanjang hidupku adalah deretan bahagia
Lalu
Apalagi yang harus aku lakukan
Selain mensyukuri semua nikmat itu
Dan membagikannya kepada sebanyak orang di sekitarku
Ternyata Aku Hidup dengan Bidadari
Semalam kubermimpi
Bertemu bidadari
Cantik, indah, wangi
Membahagiakan hati
Semalam mimpiku indah
Aku masuk sorga
Merasa nikmat tak terkira
Semua ada dan membuat bahagia
Kuterbangun di pagi hari
Kutemui anak dan istri
Cantik, indah, wangi
Membahagiakan hati
Kuterbangun di dalam rumah
Rumahku yang sederhana
Tempat hidupku bersama yang kucinta
Semua yang ada membuat bahagia
Ternyata selama ini
Aku hidup dengan bidadari
Yang turun ke bumi
Ternyata selama ini
Rumahku sorga dunia
ALHAMDULILLAH
Kiamat
Film 2012 sukses di pasar, penonton memenuhi gedung bioskop. Bila suatu film sukses di pasar, aku yakin 90% disebabkan sistem pemasarannya yang luar biasa, bukan karena kualitas filmnya. Pemasar film ini dengan lihainya memainkan isue kiamat yang menjadi inti cerita film. Sebenarnya ada beberapa film fiksi ilmiah dengan tema kiamat, tetapi film 2012 yang menampakkan gambaran kiamat di seluruh bumi.Dengan cermat film ini menunjukkan tempat-tempat istimewa di penjuru bumi mengalami kehancuran. Bahkan beredar isue bahwa sebenarnya akan ditunjukkan juga bangunan kakbah yang retak dan hancur, namun adegan itu dipotong karena beberapa pertimbangan.
Isue-isue inilah yang disebarkan pemasar film ini ke calon penonton. Tentang latar belakang cerita yang diangkat, adegan-adegan spektakuler, dan pesan-pesan yang ingin disampaikan, yang semuanya berhubungan dengan keyakinan agama, suatu isue yang membuat orang takut,marah,khawatir, yang berujung pada rasa penasaran. Fatwa-fatwa larangan justru semakin menantang mereka untuk membuktikan sendiri dengan menonton langsung.
(lagi…)
Awal atau Akhir
Adakah akhir bila tiada awal
Mungkinkah awal setelah akhir
Lebih berarti mana,awal atau akhir
Atau di antara keduanya
Hari Ini Tanggal 31 Desember
Hari ini tanggal 31 Desember
Orang bilang hari ini penghujung tahun
Orang bilang sebentar lagi ganti tahun
Orang senang
Orang menyiapkan pesta
Orang bersiap hura-hura
Hari ini tanggal 31 Desember
Aku tetap di sini
Pasangan cintaku sama
Upah bulananku sama
Lebar senyumku sama
Seperti 1 Januari yang lalu
Lalu….
Apa yang harus kurayakan
Buat apa aku pesta
Untuk apa aku hura-hura
Hari ini tanggal 31 Desember
Putih rambutku semakin banyak
Keriput kulitku semakin banyak
Gigiku semakin sedikit tapi lubangnya semakin banyak
Penglihatanku semakin kabur
Pendengaranku semakin pudar
Tenagaku semakin lemah
Dibandingkan 1 Januari yang lalu
Harusnya aku sedih
Harusnya aku menangis
Harusnya aku meratap
Harusnya aku memohon
Semoga bisa bertahan sampai 31 Desember yang akan datang
Hari ini tanggal 31 Desember
Besok tanggal 1 Januari
Tahun yang baru
Sudah siapkah aku
Menambah amal baik
Menambah teman baik
Menambah upah bulanan
Menambah harta
Sehingga
Tanggal 31 Desember yang akan datang
Aku pantas bersyukur
Aku pantas senang
Aku pantas berpesta
Aku pantas hura-hura
Kotaku Sangat Indah
Kotaku sangat indah
Dulu….
Indahnya kehangatan rahim ibuku
Belaian ibuku
Dekapan ayahku
Cubitan sayang saudara-saudaraku (lagi…)
Visi : 50% Sukses
Benarkah? Beberapa kali, bahkan mungkin setiap kali, aku mengikuti pelatihan atau seminar motivasi selalu ditekankan pentingnya Visi untuk mencapai-menggapai sukses, selalu. Benarkah?
Sempat aku tidak percaya dengan statement itu. Bagiku (dulu) sukses bisa didapat dengan kerja keras dan anugerah. Aku menganggap visi (sekali lagi dulu) identik dengan mimpi, angan-angan. Bukan hanya tidak percaya, aku bahkan apriori dengan statement tersebut. Aku mengkhawatirkan statement itu akan membuat orang jadi suka berandai-andai, bermimpi, tapi malas bekerja keras. Aku tidak percaya dengan statement itu. (lagi…)
Harapan untuk Coqi
Sejak Coqi lahir, aku sudah sering membayangkan , atau boleh dibilang mengharapkan, bahwa anakku tidak perlu punya prestasi akademik yang tinggi, tetapi dia perlu memiliki kelebihan dari rata-rata anak di usia yang sama. Harapanku itu dilandasi pengalaman hidupku sendiri. Bahwa prestasi akademikku selama ini kurasa hanya sedikit kontribusinya mengantarkanku menuju bahagia (“bahagia” lebih suka kugunakan dibanding “sukses”). Dan banyak juga , bahkan lebih banyak kubaca, orang-orang “bahagia” yang tidak memiliki riwayat prestasi pendidikan yang luar biasa. Aku menyadari bahwa aku tidak berhak mensetting minat Coqi, aku tidak berhak mentarget prestasi Coqi. Maka aku hanya berpikir, membayangkan dengan kuat, seperti apa masa depan Coqi yang aku harapkan.
Aku sangat ingin anak-anakku bahagia. (lagi…)
Matematika Dalam Misi
Aku baru terima Rapor sisipan dari Coqi. Ada dua nilai C dan satu nilai C-. Padahal passing gradenya adalah C. Yang mendapat nilai C- adalah pelajaran Matematika. Sebenarnya aku tidak kecewa dengan pencapaian Coqi, karena dia mendapatkan nilai A untuk pelajaran Agama dan Ilmu Sosial. Tapi aku khawatir, karena sampai saat ini masih banyak orang menganggap pelajaran Matematika sebagai pelajaran inti untuk tolok ukur prestasi akademik. Aku mengenal anakku. Dia bukannya tidak mampu pada pelajaran Matematika, tapi dia kurang berminat terhadap pelajaran tersebut. Bila sudah tidak berminat, bagaimana mungkin aku memaksanya berprestasi?
Aku sendiri adalah penggemar Matematika (lagi…)
Berbahagia Dahulu Berbahagia Kemudian
“Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian.Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”
Sebuah peribahasa lama yang sering sekali digunakan untuk membangkitkan motivasi. Maknanya sangat dalam, tapi luas. Saking luasnya sampai banyak yang salah menafsirkannya.
Menurutku, maksud dari peribahasa di atas adalah bahwa segala sesuatu itu harus diperjuangkan dulu. Banyak orang menafsirkan bahwa perjuangan adalah identik dengan penderitaan. Sehingga selama berjuang mendapatkan sesuatu, selama itu pula harus menderita, tersiksa, tersakiti. Benarkah? Maukah kamu? (lagi…)
Arah Datangnya Rizqi Tidak Terduga
“Pak Dian jam berapa sampai rumah bu?”
Salah seorang teman memastikan aku bisa ditemui di rumah. Sudah beberapa hari dia berusaha bertemu aku di rumah, tetapi selalu gagal karena aku selalu pulang larut malam. Akhirnya kami bisa bertemu di rumah pada hari minggu malam, bada Maghrib.
”Pak Dian saya mau mengembalikan uang yang saya pinjam, berapa ya pak? Maaf pak karena terlalu lama saya lupa”
”Wah saya juga lupa pak” (lagi…)
Menjawab Pertanyaan Izrail di Hari Lahirku
Pagi tadi, aku membayangkan bertemu malaikat Izrail dan melakukan Tanya jawab.
Malaikat Izrail (MI) : Berapa usiamu sekarang?
NM Dian (NMD) : Hari ini persis tiga puluh tujuh tahun
MI : Apa yang kamu rasakan ?
NMD : Perasaan saya seperti sedang bergantung pada seutas tali, yang memiliki banyak serabut. Di bawah saya api neraka menunggu saya jatuh. Setiap tahun satu serabut tali terputus.
MI : Berarti saat ini sudah tiga puluh tujuh serabut yang terputus !
NMD : Benar…
MI : Ada berapa serabut lagi yang belum terputus ?
NMD : Itulah masalahnya. Saya tidak pernah tahu masih tersisa berapa serabut pada tali tempat saya bergantung.
MI : Bila ternyata saat ini tinggal satu serabut, berarti tahun depan kamu akan jatuh ke neraka… ?!
NMD : Benar. Saya akan terjun bebas ke api neraka dibawah saya. Kecuali…
MI : Kecuali apa?
NMD : Kecuali saya mempersiapkan alat-alat pengaman, alat penyelamat agar tidak terjatuh.
MI : Saat ini apakah kamu sudah mempersiapkan??!
NMD : (Menunduk lesu, menarik napas panjang) Sayangnya belum…(dengan suara pelan)
MI : (Memandang tajam. Menunggu jawab selanjutnya)
NMD : Bila ternyata hanya satu serabut yang tertinggal pada tali, itulah kesempatan saya untuk segera menyiapkan alat penyelamat. Tidak ada waktu lagi, saya harus segera menyiapkan alat itu……..
Mulai Dari Yang Kecil
Aku punya satu kebiasaan yang kutiru dari kebiasaan sahabatku Pak Joko. Bila berjalan dengan dia sering menunduk atau jongkok sekedar memungut sesuatu. Saat aku perhatikan lebih cermat ternyata dia memungut paku, baut, kawat atau benda-benda kecil tajam sejenis. Aku sadar bahwa di agama juga diajarkan untuk menyingkirkan benda-benda yang berpotensi mencelakai orang lain, tetapi selama ini aku jarang banget, hampir tak pernah menemui orang yang serius dan konsisten menjalankan amal ibadah itu, bahkan aku sendiripun tidak pernah dengan sengaja, sadar, niat memperhatikan jalan untuk mencari benda-benda tajam dan memungutnya. Kalau nggak sengaja melihat sich pernah, itupun tidak selalu diikuti dengan proses memungut.
“Aku nggak niat cari paku kok pak…! (lagi…)
Selesai Menulis, Tapi Proses Pembuatannya Belum Selesai
ALHAMDULILLAH, aku berhasil menulis satu lagi cerpen. Proses pembuatan (bukan penulisan) cerpenku yang kedua ini memakan waktu cukup lama, tidak seperti cerpen pertama yang bisa kuselesaikan dalam waktu satu minggu. Dan yang paling lama adalah proses pengendapannya. Bahkan mungkin, meskipun sudah kutulis dan kuposting di Blog ini, dan kukirim ke lomba cerpen, sebenarnya cerpen keduaku ini belum selesai. Karena saat kubaca ulang cerpenku, aku masih merasakan ada yang kurang. Ibarat masakan, ada satu bumbu dan proses memasak yang belum aku lakukan.
Saat kubaca sendiri cerpenku,kurasakan tulisan cerpen keduaku ini kurang menyentuh bila dibanding proses pengendapan yang aku rasakan. Saat proses pengendapan, berkali-kali aku menangis sendiri, terharu, hatiku bergetar. Saat sendirian, tak ada orang yang melihat, aku bahkan sampai menangis tersedu. Kerongkonganku kering dan tenggorokanku sampai sakit.
Aku bagaikan merasakan sendiri, bagaikan kehidupan yang pernah kujalani. Jiwaku larut dalam karakter Rahman, dan Coqi sebagai Arif.
Seperti itukah penulis-penulis lain? Bila hanya menulis cerpen saja perasaanku jadi begitu hanyut dan jiwaku lelah, bagaimana bila menulis novel ?
Anugerah 2 :Bila nikmat sudah hilang
Malam tadi, malam keduaku di Jakarta, bangun tidur tanpa melihat orang-orang yang kucintai. Sebenarnya ini bukan yang pertama kali, dan aku juga pernah lebih lama berpisah dengan mereka, tetapi kali ini aku ingin merasakan, merekam, menuliskan persaanku saat berpisah dengan orang-orang yang sangat kucintai.
Aku sangat menyesal, saat sedang jauh dari mereka, bahwa aku tidak maksimal menikmati anugerah besar. Bukannya aku tidak bersyukur selama ini, hanya rasa syukurku berkadar standard. Bagaikan mensyukuri nasi putih dan lauk tempe sedangkan hati sedang membayangkan kambing guling.
Saat jauh seperti ini aku merasakan betapa besar nikmat yang selama ini aku terima.
Bangun pagi bertemu dengan Coqi yang bersemangat mengikutiku sholat Shubuh di masjid. Sepulang dari masjid bertemu dengan belahan jiwaku yang sudah sibuk menyiapkan sarapanku dan Coqi. Meskipun tanpa senyum karena masih mengantuk semalaman menidurkan Hanun yang masih agak kacau jam biologisnya, dia tetap terlihat sangat cantik dimataku, bahkan bagiku dia selalu terlihat sangat cantik saat baru bagun tidur.
Kemudian (lagi…)
Minta Maaf
Akhir tahun 2008 ini beberapa perubahan yang kualami terjadi, itu kalau dua hal bisa dikatakan sebagai beberapa.
Yang pertama adalah perubahan yang dialami oleh banyak orang, mungkin semua orang. Yaitu krisis ekonomi global. Mungkin ada orang yang tidak memasukkan krisis dalam kategori perubahan, tetapi bagiku krisis adalah perubahan yang sangat besar, bahkan mungkin bisa dianggap biangnya perubahan, terutama krisis ekonomi global. Luar biasa, seluruh dunia bisa menderita bersama-sama. Karena krisis ini, di lingkungan tempatku bekerja dilakukan pengetatan budget,secara besar-besaran juga. Kami harus berpikir lebih keras agar tetap bisa bekerja -menjalankan program kerja- dengan biaya yang dipangkas.
Perubahan yang kedua, adalah pergantian Kepala Cabang di Indosat Malang. Ada satu kebiasaanku, yaitu mempelajari orang, yang membuatku sibuk sekali mempelajari Kepala Cabangku yang baru. Tentu saja aku menghindari sekecil-kecilnya berpikir negatif. Ada keasyikan sendiri saat aku memetakan orang berdasarkan sifat dan sikapnya.
Dua perubahan itu mungkin yang membuatku menjadi “jauh” dari Blog. Sebenarnya sering muncul kerinduan untuk sekedar Blog Walking, tetapi entah kenapa seperti ada kekuatan yang membetot perhatian dan pikiranku pada dua perubahan tersebut.
Saat ini, ALHAMDULILLAH, kekuatan itu mulai melemah. Sehingga aku bisa membagi pikiran dan perhatianku lagi pada dunia Blog. Dan ALHAMDULILLAH (lagi) aku juga berhasil menyelesaikan satu tulisan cerpen.
Minta maaf bagi teman-teman yang berkali-kali menyapaku, dan aku tak bergeming….


Komentar Terakhir