Wanita Berkerudung Bianglala
Wanita itu bergerak cepat
Kerudungnya berkibar
Angin di sekelilingnya berubah aroma
Bukan aroma melati
Bukan aroma mawar
Bukan pula aroma kesturi
Tak bisa tercium oleh indra
Tapi terasa di hati
Membuat bahagia
Wanita itu bergerak cepat
Kerudungnya berkibar
Memancarkan cahaya
Tak terlihat mata jalang
Tak ada warna di mata hubbuddunia
Tapi sangat mempesona
Bagi mata hati
Yang bersih dan suci
Wanita itu bergerak cepat
Kerudungnya berkibar
Kerudungnya yang lebar
Tak membatasi geraknya
Tak pula mengurangi cepatnya
Karena kerudungnya adalah bianglala
Yang berkibar indah
Ujungnya menyentuh surga
Add comment Februari 1, 2010
Seluruh Hidupku adalah Anugerah
Ayahku bijaksana
Pandai, pekerja keras dan ramah
Ibuku cantik dan santun
Juga pandai, pekerja keras dan ramah
Keduanya sangat menyayangiku
Aku bahagia punya ayah dan ibu seperti itu
Fabi Ayyi ‘ala Irobbikuma Tukadzdzibaan
Kakak-adikku juga menyayangiku
Kami selalu saling membantu
Sejak kecil kami bahu membahu
Menghadapi tantangan hidup dan melalui waktu
Aku bangga punya kakak-adik seperti itu
Fabi Ayyi ‘ala Irobbikuma Tukadzdzibaan
Istriku cantik dan lembut
Jadi penyembuh saat kusakit
Jadi penghibur saat kusedih
Jadi penguat saat kulemah
Yang pasti jadi belahan jiwa
Fabi Ayyi ‘ala Irobbikuma Tukadzibaan
Anak-anakku lucu-lucu
Penyedap mataku
Penenang hatiku
Tempat kuletakkan harapan-harapanku
Karena ada mereka terasa sempurna hidupku
Fabi Ayyi ‘ala Irobbikuma Tukadzibaan
Seluruh isi hidupku adalah anugerah
Sepanjang hidupku adalah deretan bahagia
Lalu
Apalagi yang harus aku lakukan
Selain mensyukuri semua nikmat itu
Dan membagikannya kepada sebanyak orang di sekitarku
Add comment Januari 26, 2010
Ternyata Aku Hidup dengan Bidadari
Semalam kubermimpi
Bertemu bidadari
Cantik, indah, wangi
Membahagiakan hati
Semalam mimpiku indah
Aku masuk sorga
Merasa nikmat tak terkira
Semua ada dan membuat bahagia
Kuterbangun di pagi hari
Kutemui anak dan istri
Cantik, indah, wangi
Membahagiakan hati
Kuterbangun di dalam rumah
Rumahku yang sederhana
Tempat hidupku bersama yang kucinta
Semua yang ada membuat bahagia
Ternyata selama ini
Aku hidup dengan bidadari
Yang turun ke bumi
Ternyata selama ini
Rumahku sorga dunia
ALHAMDULILLAH
1 comment Januari 16, 2010
Kiamat
Film 2012 sukses di pasar, penonton memenuhi gedung bioskop. Bila suatu film sukses di pasar, aku yakin 90% disebabkan sistem pemasarannya yang luar biasa, bukan karena kualitas filmnya. Pemasar film ini dengan lihainya memainkan isue kiamat yang menjadi inti cerita film. Sebenarnya ada beberapa film fiksi ilmiah dengan tema kiamat, tetapi film 2012 yang menampakkan gambaran kiamat di seluruh bumi.Dengan cermat film ini menunjukkan tempat-tempat istimewa di penjuru bumi mengalami kehancuran. Bahkan beredar isue bahwa sebenarnya akan ditunjukkan juga bangunan kakbah yang retak dan hancur, namun adegan itu dipotong karena beberapa pertimbangan.
Isue-isue inilah yang disebarkan pemasar film ini ke calon penonton. Tentang latar belakang cerita yang diangkat, adegan-adegan spektakuler, dan pesan-pesan yang ingin disampaikan, yang semuanya berhubungan dengan keyakinan agama, suatu isue yang membuat orang takut,marah,khawatir, yang berujung pada rasa penasaran. Fatwa-fatwa larangan justru semakin menantang mereka untuk membuktikan sendiri dengan menonton langsung.
(lagi…)
1 comment Januari 12, 2010
Awal atau Akhir
Adakah akhir bila tiada awal
Mungkinkah awal setelah akhir
Lebih berarti mana,awal atau akhir
Atau di antara keduanya
Add comment Januari 1, 2010
Hari Ini Tanggal 31 Desember
Hari ini tanggal 31 Desember
Orang bilang hari ini penghujung tahun
Orang bilang sebentar lagi ganti tahun
Orang senang
Orang menyiapkan pesta
Orang bersiap hura-hura
Hari ini tanggal 31 Desember
Aku tetap di sini
Pasangan cintaku sama
Upah bulananku sama
Lebar senyumku sama
Seperti 1 Januari yang lalu
Lalu….
Apa yang harus kurayakan
Buat apa aku pesta
Untuk apa aku hura-hura
Hari ini tanggal 31 Desember
Putih rambutku semakin banyak
Keriput kulitku semakin banyak
Gigiku semakin sedikit tapi lubangnya semakin banyak
Penglihatanku semakin kabur
Pendengaranku semakin pudar
Tenagaku semakin lemah
Dibandingkan 1 Januari yang lalu
Harusnya aku sedih
Harusnya aku menangis
Harusnya aku meratap
Harusnya aku memohon
Semoga bisa bertahan sampai 31 Desember yang akan datang
Hari ini tanggal 31 Desember
Besok tanggal 1 Januari
Tahun yang baru
Sudah siapkah aku
Menambah amal baik
Menambah teman baik
Menambah upah bulanan
Menambah harta
Sehingga
Tanggal 31 Desember yang akan datang
Aku pantas bersyukur
Aku pantas senang
Aku pantas berpesta
Aku pantas hura-hura
Add comment Desember 31, 2009
Kotaku Sangat Indah
Kotaku sangat indah
Dulu….
Indahnya kehangatan rahim ibuku
Belaian ibuku
Dekapan ayahku
Cubitan sayang saudara-saudaraku (lagi…)
1 comment Desember 29, 2009
Visi : 50% Sukses
Benarkah? Beberapa kali, bahkan mungkin setiap kali, aku mengikuti pelatihan atau seminar motivasi selalu ditekankan pentingnya Visi untuk mencapai-menggapai sukses, selalu. Benarkah?
Sempat aku tidak percaya dengan statement itu. Bagiku (dulu) sukses bisa didapat dengan kerja keras dan anugerah. Aku menganggap visi (sekali lagi dulu) identik dengan mimpi, angan-angan. Bukan hanya tidak percaya, aku bahkan apriori dengan statement tersebut. Aku mengkhawatirkan statement itu akan membuat orang jadi suka berandai-andai, bermimpi, tapi malas bekerja keras. Aku tidak percaya dengan statement itu. (lagi…)
1 comment Desember 9, 2009
Harapan untuk Coqi
Sejak Coqi lahir, aku sudah sering membayangkan , atau boleh dibilang mengharapkan, bahwa anakku tidak perlu punya prestasi akademik yang tinggi, tetapi dia perlu memiliki kelebihan dari rata-rata anak di usia yang sama. Harapanku itu dilandasi pengalaman hidupku sendiri. Bahwa prestasi akademikku selama ini kurasa hanya sedikit kontribusinya mengantarkanku menuju bahagia (“bahagia” lebih suka kugunakan dibanding “sukses”). Dan banyak juga , bahkan lebih banyak kubaca, orang-orang “bahagia” yang tidak memiliki riwayat prestasi pendidikan yang luar biasa. Aku menyadari bahwa aku tidak berhak mensetting minat Coqi, aku tidak berhak mentarget prestasi Coqi. Maka aku hanya berpikir, membayangkan dengan kuat, seperti apa masa depan Coqi yang aku harapkan.
Aku sangat ingin anak-anakku bahagia. (lagi…)
Add comment November 15, 2009
Matematika Dalam Misi
Aku baru terima Rapor sisipan dari Coqi. Ada dua nilai C dan satu nilai C-. Padahal passing gradenya adalah C. Yang mendapat nilai C- adalah pelajaran Matematika. Sebenarnya aku tidak kecewa dengan pencapaian Coqi, karena dia mendapatkan nilai A untuk pelajaran Agama dan Ilmu Sosial. Tapi aku khawatir, karena sampai saat ini masih banyak orang menganggap pelajaran Matematika sebagai pelajaran inti untuk tolok ukur prestasi akademik. Aku mengenal anakku. Dia bukannya tidak mampu pada pelajaran Matematika, tapi dia kurang berminat terhadap pelajaran tersebut. Bila sudah tidak berminat, bagaimana mungkin aku memaksanya berprestasi?
Aku sendiri adalah penggemar Matematika (lagi…)
2 comments Oktober 19, 2009
Berbahagia Dahulu Berbahagia Kemudian
“Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian.Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”
Sebuah peribahasa lama yang sering sekali digunakan untuk membangkitkan motivasi. Maknanya sangat dalam, tapi luas. Saking luasnya sampai banyak yang salah menafsirkannya.
Menurutku, maksud dari peribahasa di atas adalah bahwa segala sesuatu itu harus diperjuangkan dulu. Banyak orang menafsirkan bahwa perjuangan adalah identik dengan penderitaan. Sehingga selama berjuang mendapatkan sesuatu, selama itu pula harus menderita, tersiksa, tersakiti. Benarkah? Maukah kamu? (lagi…)
4 comments Juni 9, 2009
Arah Datangnya Rizqi Tidak Terduga
“Pak Dian jam berapa sampai rumah bu?”
Salah seorang teman memastikan aku bisa ditemui di rumah. Sudah beberapa hari dia berusaha bertemu aku di rumah, tetapi selalu gagal karena aku selalu pulang larut malam. Akhirnya kami bisa bertemu di rumah pada hari minggu malam, bada Maghrib.
”Pak Dian saya mau mengembalikan uang yang saya pinjam, berapa ya pak? Maaf pak karena terlalu lama saya lupa”
”Wah saya juga lupa pak” (lagi…)
1 comment Juni 8, 2009
Menjawab Pertanyaan Izrail di Hari Lahirku
Pagi tadi, aku membayangkan bertemu malaikat Izrail dan melakukan Tanya jawab.
Malaikat Izrail (MI) : Berapa usiamu sekarang?
NM Dian (NMD) : Hari ini persis tiga puluh tujuh tahun
MI : Apa yang kamu rasakan ?
NMD : Perasaan saya seperti sedang bergantung pada seutas tali, yang memiliki banyak serabut. Di bawah saya api neraka menunggu saya jatuh. Setiap tahun satu serabut tali terputus.
MI : Berarti saat ini sudah tiga puluh tujuh serabut yang terputus !
NMD : Benar…
MI : Ada berapa serabut lagi yang belum terputus ?
NMD : Itulah masalahnya. Saya tidak pernah tahu masih tersisa berapa serabut pada tali tempat saya bergantung.
MI : Bila ternyata saat ini tinggal satu serabut, berarti tahun depan kamu akan jatuh ke neraka… ?!
NMD : Benar. Saya akan terjun bebas ke api neraka dibawah saya. Kecuali…
MI : Kecuali apa?
NMD : Kecuali saya mempersiapkan alat-alat pengaman, alat penyelamat agar tidak terjatuh.
MI : Saat ini apakah kamu sudah mempersiapkan??!
NMD : (Menunduk lesu, menarik napas panjang) Sayangnya belum…(dengan suara pelan)
MI : (Memandang tajam. Menunggu jawab selanjutnya)
NMD : Bila ternyata hanya satu serabut yang tertinggal pada tali, itulah kesempatan saya untuk segera menyiapkan alat penyelamat. Tidak ada waktu lagi, saya harus segera menyiapkan alat itu……..
2 comments April 21, 2009
Mulai Dari Yang Kecil
Aku punya satu kebiasaan yang kutiru dari kebiasaan sahabatku Pak Joko. Bila berjalan dengan dia sering menunduk atau jongkok sekedar memungut sesuatu. Saat aku perhatikan lebih cermat ternyata dia memungut paku, baut, kawat atau benda-benda kecil tajam sejenis. Aku sadar bahwa di agama juga diajarkan untuk menyingkirkan benda-benda yang berpotensi mencelakai orang lain, tetapi selama ini aku jarang banget, hampir tak pernah menemui orang yang serius dan konsisten menjalankan amal ibadah itu, bahkan aku sendiripun tidak pernah dengan sengaja, sadar, niat memperhatikan jalan untuk mencari benda-benda tajam dan memungutnya. Kalau nggak sengaja melihat sich pernah, itupun tidak selalu diikuti dengan proses memungut.
“Aku nggak niat cari paku kok pak…! (lagi…)
2 comments April 20, 2009
Selesai Menulis, Tapi Proses Pembuatannya Belum Selesai
ALHAMDULILLAH, aku berhasil menulis satu lagi cerpen. Proses pembuatan (bukan penulisan) cerpenku yang kedua ini memakan waktu cukup lama, tidak seperti cerpen pertama yang bisa kuselesaikan dalam waktu satu minggu. Dan yang paling lama adalah proses pengendapannya. Bahkan mungkin, meskipun sudah kutulis dan kuposting di Blog ini, dan kukirim ke lomba cerpen, sebenarnya cerpen keduaku ini belum selesai. Karena saat kubaca ulang cerpenku, aku masih merasakan ada yang kurang. Ibarat masakan, ada satu bumbu dan proses memasak yang belum aku lakukan.
Saat kubaca sendiri cerpenku,kurasakan tulisan cerpen keduaku ini kurang menyentuh bila dibanding proses pengendapan yang aku rasakan. Saat proses pengendapan, berkali-kali aku menangis sendiri, terharu, hatiku bergetar. Saat sendirian, tak ada orang yang melihat, aku bahkan sampai menangis tersedu. Kerongkonganku kering dan tenggorokanku sampai sakit.
Aku bagaikan merasakan sendiri, bagaikan kehidupan yang pernah kujalani. Jiwaku larut dalam karakter Rahman, dan Coqi sebagai Arif.
Seperti itukah penulis-penulis lain? Bila hanya menulis cerpen saja perasaanku jadi begitu hanyut dan jiwaku lelah, bagaimana bila menulis novel ?
5 comments Maret 30, 2009
Anugerah 2 :Bila nikmat sudah hilang
Malam tadi, malam keduaku di Jakarta, bangun tidur tanpa melihat orang-orang yang kucintai. Sebenarnya ini bukan yang pertama kali, dan aku juga pernah lebih lama berpisah dengan mereka, tetapi kali ini aku ingin merasakan, merekam, menuliskan persaanku saat berpisah dengan orang-orang yang sangat kucintai.
Aku sangat menyesal, saat sedang jauh dari mereka, bahwa aku tidak maksimal menikmati anugerah besar. Bukannya aku tidak bersyukur selama ini, hanya rasa syukurku berkadar standard. Bagaikan mensyukuri nasi putih dan lauk tempe sedangkan hati sedang membayangkan kambing guling.
Saat jauh seperti ini aku merasakan betapa besar nikmat yang selama ini aku terima.
Bangun pagi bertemu dengan Coqi yang bersemangat mengikutiku sholat Shubuh di masjid. Sepulang dari masjid bertemu dengan belahan jiwaku yang sudah sibuk menyiapkan sarapanku dan Coqi. Meskipun tanpa senyum karena masih mengantuk semalaman menidurkan Hanun yang masih agak kacau jam biologisnya, dia tetap terlihat sangat cantik dimataku, bahkan bagiku dia selalu terlihat sangat cantik saat baru bagun tidur.
Kemudian (lagi…)
2 comments Maret 24, 2009
Minta Maaf
Akhir tahun 2008 ini beberapa perubahan yang kualami terjadi, itu kalau dua hal bisa dikatakan sebagai beberapa.
Yang pertama adalah perubahan yang dialami oleh banyak orang, mungkin semua orang. Yaitu krisis ekonomi global. Mungkin ada orang yang tidak memasukkan krisis dalam kategori perubahan, tetapi bagiku krisis adalah perubahan yang sangat besar, bahkan mungkin bisa dianggap biangnya perubahan, terutama krisis ekonomi global. Luar biasa, seluruh dunia bisa menderita bersama-sama. Karena krisis ini, di lingkungan tempatku bekerja dilakukan pengetatan budget,secara besar-besaran juga. Kami harus berpikir lebih keras agar tetap bisa bekerja -menjalankan program kerja- dengan biaya yang dipangkas.
Perubahan yang kedua, adalah pergantian Kepala Cabang di Indosat Malang. Ada satu kebiasaanku, yaitu mempelajari orang, yang membuatku sibuk sekali mempelajari Kepala Cabangku yang baru. Tentu saja aku menghindari sekecil-kecilnya berpikir negatif. Ada keasyikan sendiri saat aku memetakan orang berdasarkan sifat dan sikapnya.
Dua perubahan itu mungkin yang membuatku menjadi “jauh” dari Blog. Sebenarnya sering muncul kerinduan untuk sekedar Blog Walking, tetapi entah kenapa seperti ada kekuatan yang membetot perhatian dan pikiranku pada dua perubahan tersebut.
Saat ini, ALHAMDULILLAH, kekuatan itu mulai melemah. Sehingga aku bisa membagi pikiran dan perhatianku lagi pada dunia Blog. Dan ALHAMDULILLAH (lagi) aku juga berhasil menyelesaikan satu tulisan cerpen.
Minta maaf bagi teman-teman yang berkali-kali menyapaku, dan aku tak bergeming….
2 comments Maret 13, 2009
Belajar Berpikir Ala Jenderal
Pagi ini aku harus menghadiri rapat di Surabaya. Sebenarnya yang diundang adalah para Kepala Divisi dan Kepala Cabang se-Jawa Timur dan Bali Nusa Tenggara. Tetapi karena Kepala Cabang Malang sedang naik Haji aku yang ditunjuk untuk mewakili.
Sebenarnya aku agak malas mengerjakan tugas ini. Kubayangkan rapat ini akan dipenuhi angka-angka target tahun depan dan laporan-laporan progres tahun ini, sangat membosankan. Perasaan malas itu timbul sejak kemarin, karena undangannya baru kuterima kemarin. Seharian kemarin aku disibukkan dengan mengumpulkan laporan dari teman-teman tentang kegiatan-kegiatan yang sudah dan akan dilakukan. Bayangkan saja secara mendadak aku dipaksa mempelajari hal-hal yang tidak pernah aku lakukan dan rencanakan, capek deh…. (lagi…)
19 comments Desember 12, 2008
Bersyukur = Bahagia
(Berhubungan dengan tulisan sebelumnya : Bahagia)
Tiga belas tahun yang lalu, yang ada di angan-anganku adalah : “Alangkah bahagianya bila aku bisa diterima bekerja di suatu perusahaan”. Tidak penting berapa gajiku, apa jabatanku, yang penting bisa bekerja. Karena saat itu aku sudah menganggur selama hampir satu tahun. Bayangkan saja, yang sudah berpengalaman bekerja saja susah mencari kerja. Yang baru lulus kuliah, yang pikirannya masih fresh dengan ilmu-ilmu canggih (karena itu disebut Fresh Graduate) juga sangat sulit mencari kerja. Apalagi aku, yang sudah lulus satu tahun, sudah tidak fresh lagi, dan tidak punya pengalaman bekerja sama sekali. Bisa membayangkan khan perasaanku saat itu?
Karena kasih sayang ALLOH, aku diterima di perusahaan telekomunikasi dengan gaji satu setengah kali gaji yang aku minta. Luar biasa bahagia sekali aku saat itu.
Saat menerima gaji pertama, ingin rasanya aku mentraktir, membelanjakan segala hal bagi Bapak, Ibu, dan seluruh saudaraku. Tapi kebahagiaan itu hanya terasa besar dalam beberapa bulan saja. Setelah itu, gaji yang kuterima terasa biasa, tidak terlalu istimewa untuk bisa membuat bahagia. Padahal jumlahnya tidak menurun, dan harga-harga barang juga tidak mengalami kenaikan. Ke mana perginya perasaan bahagia itu…?? (lagi…)
11 comments Desember 9, 2008
Naik Sepeda 4 : Mencoba Hidup Seimbang
Hidup sehat seimbang, seperti apa?
“Kita harus seimbang antara dosa dan pahala “
Waduh, kalau kebablas kebanyakan dosa bagaimana dong… ??
“Harus seimbang antara aktifitas ibadah dan aktifitas keduniaan”
Lha mbaginya bagaimana? Fifty – fifty ? Bukannya setiap pekerjaan positif bisa kita niatkan ibadah? Bahkan bila kita niatkan dan ikhlas, tidurpun akan bernilai ibadah.
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan ALLOH kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah sebagaimana ALLOH telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.Sesungguhnya ALLOH tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”(Al Qasas 77)
Jadi seharusnya porsi dunia dibanding akhirat bagaikan rumput di sela-sela padi di sawah. Atau ibarat menanam rosella di sela-sela pohon jati Jumbo.
Khan seimbang bukan berarti prosentase sama semua… (lagi…)
7 comments Desember 1, 2008
Bapak : Martabak
Ramadhan tahun delapan puluh tiga
Saat belajar puasa dulu, hal yang terberat bukanlah siang saat puasa, tetapi bangun malam untuk makan sahur. Dan makan sahur paling kutunggu-tunggu adalah bila menunya martabak. Saat itu kehidupan kami sangat sederhana. Bapak, yang hanya punya ijazah SMP, hanya jadi pegawai negeri rendah di PEMKAB Jember. Martabak adalah menu yang mewah bagi kami. Belum tentu setiap bulan kami bisa menikmati martabak.
Malam itu, sebelum kami tidur, Bapak datang membawa bungkusan martabak. Agar tidak Ngringet, martabak yang masih panas dibuka bungkusannya dan diler di piring. Aroma lezatnya menyebar di seluruh rumah, dan membuat air liur menetes. Tetapi kami tidak bisa langsung menikmatinya karena martabak tersebut untuk lauk makan sahur. Jadilah kami bersemangat tidur, agar tidak berlama-lama menahan air liur, (lagi…)
8 comments November 19, 2008
Kasih Sayang Terbesar
Sabtu kemarin aku menjemput Coqi ke sekolahnya. Begitu masuk Dhuhur aku sholat berjama’ah di masjid VEDC. Selesai sholat, karena Coqi baru keluar sekolah jam tigabelas, kuhabiskan waktuku duduk-duduk di serambi masjid. Sambil blogwalking menggunakan GPRS aku menikmati semilirnya angin siang yang mendung. Beberapa saat kemudian telingaku menangkap pembicaraan dua orang yang membuatku mengalihkan perhatianku dari HP dan mencari sumber suara. Dua orang laki-laki, yang kemungkinan adalah pekerja bangunan yang sedang membangun gedung baru di komplek VEDC, sedang bertegur sapa. (lagi…)
4 comments November 17, 2008
Naik Sepeda 3 : Keranjingan
Begitu bisa naik sepeda, aku seperti anak kecil yang baru dapat mainan baru, keranjingan naik sepeda. Setiap pagi, bada Subuh, kusempatkan barang satu jam untuk bersepeda. Ternyata bersepeda itu sangat nikmat. Aku bisa menikmati pemandangan di sepanjang jalan yang kulalui yang tidak bisa kunikmati bila naik motor.
Sebelumnya olah raga favoritku adalah lari, joging. Tapi begitu bisa naik sepeda, ternyata kenikmatannya dua kali lipat. Bersepeda terasa tidak gampang capek dibandingkan joging, namun (lagi…)
5 comments November 12, 2008
Senyum Tercantik
Mata beningnya berbinar. Bulu mata yang lentik menambah keindahannya. Pipinya yang bulat, Chubby, kemerah-merahan menantang untuk dicubit, menggemaskan. Mulutnya yang mungil selalu bergerak-bergerak berceloteh mengeluarkan suara-suara khas yang meskipun tidak jelas artinya terdengar merdu, juga menggemaskan. Tangan mungilnya bertepuk tangan atau menepuk-nepuk pahanya sendiri mengiringi “lagu” yang ia nyanyikan. Tapi bukan itu semua yang menjadi penyebab utama sehingga hampir seluruh tetangga dekat kami keluar rumah mereka untuk mengerumuninya, mencandainya. Senyumnya, senyumnyalah yang menjadi daya tarik, memikat semua orang yang bertemu dengannya. Senyumnya , meskipun tidak sempurna karena tidak dihiasi gigi, memang senyum yang tercantik di dunia, paling tidak menurutku dan ibunya. Senyum itu yang membuatku setiap malam merintih-menangis bahagia menghaturkan syukur kepada-NYA. Senyumnya itu adalah wujud semakin melimpahnya anugerah ALLOH kepadaku. Fabi ayyi ‘aala irobbikuma tukadzdzibaan….
Mumtaza Hanun Basil baru berusia delapan bulan. (lagi…)
4 comments November 9, 2008
Kesedihan Ibu
Berapa minggu yang lalu Ibuku tercinta datang menjenguk kami. Menginap tiga hari di Malang. Pada suatu kesempatan ibu mengajak bicara serius istriku, cukup serius karena Ibu sampai meneteskan air mata. Saat itu aku sedang di kantor, dan memang Ibu sengaja mencari kesempatan seperti itu, karena mungkin Ibu mengira aku masih seperti dulu, keras-kaku-tidak bisa diajak bicara. Isi dari pembicaraan Ibu dan istriku adalah bahwa beliau sangat memprihatinkan kondisi materi rumah tanggaku, dan tidak sepaham dengan cara pandangku terhadap dunia, termasuk juga doktrin-doktrin yang aku ajarkan kepada anak-anakku. Ibu menganggap aku terlalu tidak menghiraukan kualitas kehidupan dunia, keterlaluan dalam menerapkan “hidup sederhana”. Ibu mengkhawatirkan masa depan cucu-cucunya.
Aku tidak tahu bagaimana Ibu bisa berpikir seperti itu. (lagi…)
8 comments November 6, 2008

