Senyum Tercantik
November 9, 2008
Mata beningnya berbinar. Bulu mata yang lentik menambah keindahannya. Pipinya yang bulat, Chubby, kemerah-merahan menantang untuk dicubit, menggemaskan. Mulutnya yang mungil selalu bergerak-bergerak berceloteh mengeluarkan suara-suara khas yang meskipun tidak jelas artinya terdengar merdu, juga menggemaskan. Tangan mungilnya bertepuk tangan atau menepuk-nepuk pahanya sendiri mengiringi “lagu” yang ia nyanyikan. Tapi bukan itu semua yang menjadi penyebab utama sehingga hampir seluruh tetangga dekat kami keluar rumah mereka untuk mengerumuninya, mencandainya. Senyumnya, senyumnyalah yang menjadi daya tarik, memikat semua orang yang bertemu dengannya. Senyumnya , meskipun tidak sempurna karena tidak dihiasi gigi, memang senyum yang tercantik di dunia, paling tidak menurutku dan ibunya. Senyum itu yang membuatku setiap malam merintih-menangis bahagia menghaturkan syukur kepada-NYA. Senyumnya itu adalah wujud semakin melimpahnya anugerah ALLOH kepadaku. Fabi ayyi ‘aala irobbikuma tukadzdzibaan….
Mumtaza Hanun Basil baru berusia delapan bulan. Setiap pagi dan sore, setelah mandi, kami dudukkan di depan rumah agar bisa menikmati cahaya pagi dan senja. Ternyata rutinitas pribadinya itu berubah menjadi rutinitas ramai-ramai bersama para tetangga kami. Hampir setiap pagi dan sore mereka menantikan Hanun di depan rumah kami. Mereka selalu merindukan senyum Hanun. Hanun selalu tersenyum lebar, selama dia tidak sedang mengantuk, bila orang menyapanya. Bahkan bila ada orang yang lewat di depan rumah dan mengacuhkannya, Hanun akan menyapanya duluan, tentu saja menggunakan bahasanya sendiri. Para penjual makanan akan berhenti sejenak untuk menikmati senyumannya.
Bila kami ajak belanja ke swalayan, Hanun akan menebarkan senyumnya kepada setiap orang yang memandangnya. Sehingga orang tersebut tidak tahan untuk tidak mendekat sekedar membelai lengannya, dan Hanunpun semakin memaniskan senyumnya sambil berceloteh riang, mungkin bila diterjemahkan dia mengatakan “Assalaamu’alaikum…Hari yang indah ya…”.
Pada usianya yang belum genap setahun Hanun sudah bisa membahagiakan orang lain, dengan senyumnya. Hanun sudah banyak bersedekah dengan keikhlasan senyumnya. Hanun bersedekah dengan senyumnya, hanya senyum, karena hanya itu yang dia miliki saat ini. Di tempat lain banyak “Hanun-Hanun” lain yang tidak memiliki senyum, kehilangan senyumnya. Padahal senyum mereka adalah symbol harapan masa depan dunia ini. Kita yang sudah punya banyak hal selain senyum, apa yang bisa kita perbuat? Untuk mengembalikan senyum mereka yang hilang, untuk menyelamatkan masa depan dunia…?
Entry Filed under: Permata Hati. .
4 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed


1.
hmcahyo | November 10, 2008 at 11:15 am
ah jadi ingat Habib masih kecil – karena sering diajak pulang baling Jombang – Malang sama Umminya, sampe sopir BIs restu hapal dan bilang “Tak Pek-e anak-e sampen sing lucu iku Bu..”
2.
Ikkyu_san | Desember 8, 2008 at 4:02 pm
saya selalu pikir bahwa anak balita pasti tersenyum terus. Tapi ternyata tidak demikian ya? Ada pula yang memang bentuk wajahnya spt cemberut terus, atau karena kurang kasih sayang selalu rewel dan menangis. tapi masih mending, yang menakutkan kalau sudah tanpa ekspresi. Berbahagia orang tua yang mempunyai anak selalu tersenyum.
EM
3.
zonaam3 | Januari 21, 2009 at 7:17 am
jadi pingin maen kesana lagi..
salam buat keluarga ya pak…
4.
heri | Januari 23, 2009 at 5:18 pm
pak dian gimana kabarnya ?